Ancaman dibalik perbedaan: gerakan pemicu disintegrasi bangsa Indonesia

Integrasi nasional diartikan sebagai proses penyatuan atau asimilasi dari bangsa-bangsa hingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Penjelasan mengenai integrasi nasional mempunyai banyak macam. Dalam Kamus Besar Bangsa Indonesia (KBBI), Integrasi didefinisikan proses asimilasi sampai membentuk satu kesatuan yang utuh. Maka, Integrasi nasional disimpulkan sebagai tahap-tahap dari penyatuan wilayah yang menyatukan berbagi macam perbedaan yang ada. 

Indonesai merupakan negara yang terdiri dari banyak bangsa (suku) yang kemudian bersepakat untuk bersatu menajdi bangsa yang besar. Suku-suku di Indonesai punya ikatan alami dan sangat kuat seperti bahasa, budaya, dan tradisi yang sangat kuat. Ikatan suku ini bersifat primer, sedangkan kesetiaan kepada bangsa bersifat sekunder, sehingga biasanya yang akan lebih di prioritaskan adalah ikatan suku dibandingkan dengan ikatan kebangsaan. Apabila ikatan suku atau etnik ini tidak di hargai atau diabaikan, mereka bisa saja kembali mengutamakan kelompoknya asalnya sendiri. Akibatnya, rasa persatuan atau interasi bangsa akan melemah bahkan hilang. 

Adanya banyak perbedaan dan banyaknya suku bangsa maka integrasi bangsa di nilai sangat penting. Tetapi usaha membangun persatuan tidak selalu mudah. Semakin negara berusaha menjadi kuat dan berdaulat, justru beresiko memunculkan kembali ikatan dan egoisme kesukuan, kedaerahan, atau agama. Kemudian ikatan itu dapat tumbuh menjadi gerakan yang separatis seperti ingin memisahkan diri, rasialis, atau gerakan keagamaan yang menolak persatuan.

Berikut ini beberapa gerakan sparatis yang pernah ada di Indonesia bahkan ada yang masih berdiri hingga sekarang. 

1. Organisasi papua merdeka

Organisasi papua merdeka yang sering kali di sebut OPM merupakan kelompok separatis yang dibentuk sejak desember 1965. Tujuan dari organisasi ini adalah menginginkan kemerdekaan papua di bagian barat dari pemerintahan Indonesai. Pendiri OPM adalah Aser Demotekay yang juga merupakan kepala distrik Demta. 

Dibawah naungan kekuasaannya, gerakan ini cukup kooperatif dengan pemerintah, dan melarang adanya kekerasan. Namun sejak dipimpin oleh Jacob Prai, organisasi ini mulai melakukan kekerasan dengan melakukan aksi terorisme di daerah papua. 

2. Gerakan Aceh Merdeka

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dulunya bernama Aceh Merdeka (AM) dibentuk pada tanggal 4 Desember 1976 di gunung Halimon, Pidie. Pendiri gerakan ini ialah Tgk Hasan Muhammad. Awal mula kemunculan gerakan ini, disebabkan oleh konflik yang disebabkan adannya perbedaan pandangan tentang hukum islam, kekecewaan tentang distrbusi di Aceh, dan banyaknya pendatang dari Jawa ke Aceh. 

Tindakan pemerintah mengahdapi hal ini tidak tepat sehingga muncullah perlawanan yang di manfaatkan oleh kelompok tersebut dan mendapat dukungan dari masyarakat. Konflik dengan pemerintah berujung damai, GAM resmi bubar pada tanggal 15 Agustus 2005 dengan menandatangani perjanjian Helsinki.

3. Republk Maluku Selatan (RMS)

Republik maluku selatan adalah gerakan sparatis yang tujuannya untuk memisahkan diri dari Indonesai bagian timur. Pendiri gerakan ini adalah Dr. Christian Robert Steven Soumokil yang dulunya adalah seorang Jaksa Agung di Indonesai bagian timur. Gerakan ini disahkan pada tanggal 25 April 1950 di Ambon yang dijadikan maskas pusat. Awal mula berdirinya gerakan ini karena ada situasi politik di Maluku yang tidak menentu, khususnya pada konferensi meja bundar. 

Adanya perbedaan pemikiran orang Ambon pada masa NIT, menjadikan mereka dua golongan, golongan pertama pro kepada nasionalisme Indonesia, dan golongan kedua pro terhadap Belanda. Runtuhnya RMS dikarenakan kota Ambon jatuh ke tangan pemerintah. Sisa-sisa pasukan melarikan diri ke hutan, namun sisa dari mereka melakukan pengacauan dengan aksi gerilya setelah beberapa tahun Ambon jatuh ke tangan pemerintah. 

Dengan adanya golonga-golongan tersebut integrasi nasional harus menjadi perhatian bagi kita semua. Baik bagi pemerintah, yang harus menjadikan rakyat bersatu dan berotong royong melalui program-programnya, dan rakat mendukung program pemerintah tersebut. Selain itu tidak boleh menyenggol-nyenggol bangsa lain yang bebeda dengan kita, seperti perbedaan suku, budaya, ras, bahasa dll. Karena dengan itu akan berpotensi memunculkan golongan-golongan pemicu didintegrasi bangsa lainnya.

Referensi

El Faisal, E., Jaenudin, R., Sulkipani, Mentari, A., & Camellia. (2022). Buku ajar integrasi nasional. Palembang: Bening Media Publishing.

Searah dan sosial. (2024, 15 Maret). “Tujuan OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang berdiri tahun 1965” Kumparan.

Heyder Affan. “Konflik berulang membuat masyarakat Aceh trauma' – Mengapa Indonesia harus belajar dari penyelesaian damai konflik Aceh?” (2025, 18 Agustus). BBC News 

Adi Warsidi. (2023, 4 Desember). “Awal Mula Gerakan Aceh Merdeka 47 Tahun Lalu” Acehkini.ID

Rasmilawati Rustam. (2022, 16 Desember). “Pemberontakan Republik Maluku Selatan: Sejarah, Tujuan dan Upaya Penyelesaian” Detiksulsel.

Disusun oleh: Tifani Maulidah (Mahasiswa PGSD Untirta)

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewarganegaraan, yang diampu oleh: Dr. Ujang Jamaludin, S.Pd, M.Si, M.Pd (Dosen PGSD Untirta)

Komentar